 |
|
 |
 |
ARTIKEL dinamika ebookstore
| 20-08-2009 |
| Menulis untuk Pembaca Tendensius |
Jawa Pos, 16 Agustus 2009
Tulisan Abdul Waid bertajuk Penulis Berani Mati (Jawa Pos,
9/8/2009) mengingatkan kita bahwa trialektika (dialog tiga arah) antara
penulis, teks, dan pembaca tak selamanya berlangsung damai. Kecaman,
teror, bahkan ancaman kekerasan fisik bisa mewarnai dialog tiga arah
itu.
Sebagai pengalaman pribadi, dalam tulisannya, Waid mengisahkan intimidasi dan teror yang diterima pasca penerbitan buku Sorban yang Terluka.
Dalam konteks yang lebih luas, nama-nama seperti Salman Rushdi, Ala
Hamid, Nasr Hamid Abu Zaid, Farag Fouda, dan Mahmud Mohammad Toha bisa
dijejer sebagai sampel yang menguatkan fenomena trialektika salah arti
tersebut. Maksudnya, mereka adalah korban pembacaan teks yang berujung
pada pemahaman berbuah kebencian pada sang penulis.
Merujuk pada
tradisi hermeneutik, penulis sejatinya dianggap "mati" ketika sebuah
teks sudah berada di ruang baca para pembacanya. Teks telah menjadi
milik sah para pembaca saat ia keluar dari ruang pikir penulisnya.
Karena itu, apa pun interpretasi pembaca terhadap teks tak bisa
disalahkan atau dibenarkan. Tak peduli apakah interpretasi itu cocok
dengan "kehendak awal" penulisnya atau tidak.
Teks itu multitafsir. Hammal al-wujuh,
kata Imam Ali. Namun, tentu saja kebebasan menafsir dan memahami teks
tidak berarti kebebasan untuk membenci atau menodai kebebasan menulis.
Di sinilah kelapangan hati untuk menerima perbedaan pendapat harus
dimunculkan dan dimatangkan.
Seorang penulis adalah kreator
tulisan dan perangkum makna. Sedangkan pembaca adalah penafsir makna
dari tulisan tersebut. Meski demikian, tak selamanya makna yang
tertulis selaras dengan makna yang terpahami pembaca. Hal itu
disebabkan banyak hal: latar belakang pengetahuan, perbedaan orientasi,
alur pendidikan, ketajaman analisis, bahkan status sosial.
Misalnya, mereka yang duduk di pemerintahan akan lebih sensitif membaca tulisan seputar clean government,
pemberantasan korupsi, atau transparansi keuangan daripada mereka yang
berada di pihak oposisi. Perbedaan posisi sosial semacam itu bisa
melahirkan respons berbeda -bahkan terkadang berlebihan- terhadap
sebuah tulisan, pada sebuah buku.
Sedikitnya, ada tiga tipologi pembaca buku. Pertama, pembaca buku knowledgable.
Yang masuk dalam kelompok tersebut adalah para pembaca yang menelaah
isi buku berdasar keinginan murni untuk mendalami isi dan muatan buku,
tanpa tendensi side-effect apa pun. Kelompok tersebut tak
berpikir soal kecenderungan dan orientasi ideologis ataupun politis
penulisnya. Pembacaan mereka murni seseorang yang ingin tahu dan ingin
menguatkan pengetahuan.
Bagi kelompok itu, substansi dan
esensi buku lebih penting daripada menyoal kecenderungan, ideologis,
ataupun politis si penulis buku. Buku-buku yang dilahap kelompok
tersebut kebanyakan buku kurikulum, mulai sekolah dasar hingga
perguruan tinggi. Biasanya, buku-buku yang mereka baca adalah buku yang
linier dengan disiplin ilmu pengetahuan yang digeluti.
Kedua, kelompok pembaca buku karena dorongan keingintahuan (curiosity).
Berbeda dari kelompok pertama, kelompok ini menelusuri sebuah buku
lebih karena keingintahuan, bukan semata karena pengetahuan (knowledge).
Bagi kelompok tersebut, isi dan substansi buku bukanlah unsur pokok.
Tapi, melampiaskan keingintahuan dan meladeni ke-penasaran-an diri
adalah yang utama.
Misalnya, orang-orang berbondong-bondong
mencari buku tentang Michael Jakson pasca kematian raja pop tersebut.
Orang memburu buku-buku tentang klub sepak bola Manchester United
ketika tim itu merencanakan bertandang ke Jakarta. Atau, orang-orang
yang melahap buku-buku tentang terorisme pasca peledakan Hotel JW
Marriott dan Ritz-Carlton.
Membaca buku, bagi kelompok itu, telah menjelma menjadi tren dan life style
agar tak ketinggalan informasi. Momen-momen penting lebih bisa
menggerakkan kelompok pembaca kedua tersebut untuk giat membaca buku
tertentu daripada buku-buku terkait dengan tuntutan profesi.
Di
sisi lain, ada penulis yang menulis dengan memanfaatkan momentum
peristiwa tertentu. Takkan sebuah momen pun terlewati tanpa menulis
buku. Contoh terkini, ketika Ramadan tiba, banyak penulis yang
keroyokan menerbitkan buku-buku tentang puasa.
Kelompok ketiga
adalah pembaca buku yang tendensius. Mereka membaca buku bukan untuk
menimba pengetahuan, tapi untuk mencari kesalahan dan keteledoran di
dalamnya. Setidaknya, mereka membaca hanya untuk memperkuat diri
sendiri bahwa buku tersebut tidak bagus, tidak bermutu, atau salah.
Bukan pengetahuan atau keingintahuan yang mendasari pembacaan mereka,
tapi ketidaksukaan (dislikeness) dan kebencian (hatred).
Contohnya,
kelompok kanan Ikhwanul Muslimin di Mesir akan cenderung membaca
buku-buku tentang Islam kiri seperti buku-buku Hassan Hanafi, Arkoun,
dan Mahmoud Ismail. Tapi, bukan untuk mengetahui dan mengapresiasi buku
tersebut, melainkan untuk mencari kelemahan dan melihat celah untuk
menyerang balik pemahaman yang mereka anggap salah.
Sebaliknya,
kelompok liberal cenderung bersikap sama terhadap buku-buku Islam
kanan, melihatnya sebagai sebuah keteledoran berpikir dan kepicikan
bernalar. Hal itu bisa dianggap sebagai sebuah kewajaran selama polemik
yang mereka lakukan masih berpusar di aras wacana.
Persoalannya,
tidak sedikit kelompok pembaca ketiga itu yang mengekspresikan
ketidaksukaan mereka terhadap sebuah buku dengan kecaman, tuduhan,
bahkan ancaman terhadap penulisnya. Buku tak berbalas buku. Kata-kata
tak berbalik kalimat. Kebencian itu mereka ekspos dalam bentuk intimidative speech
dan kekerasan fisik. Cerita Abdul Waid adalah contoh kecil perkara itu.
Masih banyak kisah heroik para penulis dunia yang berani melawan "maut" dan tetap menulis buku, meski dicecar segala tuduhan dan
diserbu berbagai ancaman.
Kekerasan tidak hanya menakutkan saat
ia menjelma dalam bentuk fisik. Kekerasan mental, seperti ancaman dan
teror, juga tak bisa dimaafkan. Seorang Nasr Abu Zaid, penulis buku
kontroversial Mafhum an-Nash, bahkan harus meninggalkan tanah
kelahirannya untuk mencari ruang kondusif berkarya, menulis, dan
mengajar. Tuduhan dan ancaman memaksanya meninggalkan Mesir.
Mohammad
Arkoun lebih memilih tinggal di Prancis daripada hidup di negeri
asalnya, Aljazair, agar mendapatkan lingkungan yang nyaman untuk karir
intelektualnya. Abdullah An-Naim, Khaled Abou El Fadl, Mahmoud Ayyoub,
serta penulis-penulis migran lain memilih hidup jauh dari negeri
sendiri untuk mencari kenyamanan dan kedamaian berkarya.
Dalam
konteks Indonesia, banyak penulis yang terpaksa hijrah dan menjadi
penulis di "negeri rantau", jauh dari tempat kelahiran, dengan dua
alasan: meminimalkan atau menghindari konflik. Dalam Hubbu,
pemenang sayembara novel DKJ 2006, Mashuri menggambarkan dengan apik
kisah seseorang yang dituntut bisa meneruskan tradisi di lingkungan
asalnya. Tapi, pada saat bersamaan, dia dihadapkan pada kehidupan
rantau yang jauh berbeda.
Seorang penulis kritis yang lahir dari tradisi dan lingkungan status quo
memang sering dihadapkan pada pilihan dilematis: menjadi kritis tapi
dieliminasi dari "tanah asal" atau menjadi penulis yang tak menyentuh
persoalan "tanah asal"-nya.
Perlu dicatat, tradisi yang mempertahankan status quo
cenderung melahirkan pembaca-pembaca tendensius yang lebih sibuk
mempersoalkan kesalahan dan keteledoran daripada mencari kebenaran dan
pengetahuan dalam sebuah buku.
Menghadapi mereka, seorang
penulis tak perlu repot mencari gaya menulis lain agar terhindar dari
respons negatif, melainkan terus berkarya sesuai keinginan, fakta,
serta pengetahuan yang sebenarnya. Kebenaran memang harus terus
ditulis, meski memerahkan mata pembacanya. (*)
*) AKHMAD SIDDIQ, pegiat kelompok baca dan sastra SBK (Sarikat Buruh Kata), alumnus studi agama dan lintas budaya UGM
|
|
|
 |
 |
|
 |
|
|