Sumber: Mizan.com Sebagai salah seorang yang pernah membaca karya
Dee, saya sangat menikmati Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh,
dan Supernova: Akar. Boleh dibilang, melalui Supernova keping
pertama, pergumulan menemukan bacaan bermutu dan hasrat intelektual terpuaskan.
Sebagai mahasiswa yang masih hijau daun dan sok ngilmiah (bahkan saya
ingat betul kosa kata ilmiah dicari dan dihafal mati untuk memuaskan narsisisme
kemahasiswaan saya), saya betul -betul tersihir dengan hadirnya kosa kata asing
yang harus dibantu dengan membaca catatan-catatan kaki yang ditulis oleh Dee.
Membaca Supernova melambungkan saya pada
gagasan novel saintifik dengan bumbu chaotic yang kental. Maka bertemulah
saya pada istilah bifurkasi yang menawan pada Supernova. Kata ini, dan
kata-kata saintifik lainnya, segera menyita seluruh perhatian saya—menciptakan
semacam gelegar. Namun, membaca Akar, dengan tokoh utamanya yang bernama
Bodhi, saya segera teringat Chin Mi dengan jurus pamungkas Ilmu Peremuk Tulang
dari Kuil Dairinji. Saya masih bisa menemukan keasyikan yang sama tetapi dengan
gaya menulis yang sama sekali berbeda.
Tahun berlalu, saya seakan lupa dengan
novel-novel Dee sampai kemudian saya larut membaca manuskrip terbaru Dee,
Perahu Kertas, lalu merampungkan Rectoverso setelahnya. Novel yang
awalnya dirilis melalui versi WAP, menggandeng salah satu operator seluler, ini
memang unik. Dibandingkan dengan karya Dee lainnya, novel ini segar dan tidak
banyak diimbuhi catatan kaki seperti pada Supernova—kecuali ungkapan
khusus bahasa Sunda dan Bali.
Mungkin karena Dee ingin menyuguhkan sesuatu yang
berbeda—sebuah proyek bunuh diri, demikian Dee menyebutnya, yang dituntaskan
secara maraton selama 55 hari di sebuah kos-kosan mahasiswi di utara kota
Bandung. Meskipun demikian, karya Dee ini tetap memiliki aroma khas Dee yang
filosofis dan penuh permenungan—sisi remajanya sangat akrab dan pas, tetapi
tetap penuh kendali bahkan dengan sengaja meremas emosi pembaca, menahannya
selama mungkin sampai mencapai kulminasi di akhir babak. Mantap!
Kisah di Balik Perahu
Penerbitan Perahu Kertas merupakan kolaborasi apik antara Bentang
Pustaka, Truedee, dan Dewi Lestari sebagai penulis. Saya memang tidak mengikuti
proses kreatif awalnya dari blog, tetapi saya langsung jatuh hati saat membaca
versi WAP-nya. Biarpun pegal dan mata perih melihat teks di ponsel yang cuma
sebesar semut, saya bisa bertahan hingga 100-an halaman. Nah, ide pun muncul
kenapa tidak diterbitkan Bentang saja versi cetaknya. Saya tahu Dee telah
memiliki penerbitan sendiri dengan nama Truedee; akan tetapi, keberuntungan
tentu perlu dicoba. Lalu berlayarlah pinangan Bentang sejak awal 2009 kepada
Dewi Lestari. Dan seperti yang dibilang orang, the rest is history.
Ada kebiasaan saya yang selalu ingin bertanya,
entah kepada editor penanggung jawab, asisten editor, atau para proofreader
yang sudah menikmati sebuah karya. Saya selalu tanya kesan mereka setelah
membaca naskah. Apakah mendebarkan, seru, atau malah biasa-biasa saja. Komentar
mereka saya perlukan untuk melihat apakah timbul passion setelah membaca naskah
bagus. Apakah gagasan penulis memantik ide teman-teman di penerbit untuk
memperlakukan karya secara kreatif, unik?!
Bagi saya sendiri Perahu Kertas adalah pengalaman mencicip novel bergizi
secara Dee. Jika Anda tekun membaca, Anda akan menemukan daya magis tulisan Dee
dan tahu-tahu anda ikut tumbuh bersama tokoh-tokoh di dalamnya. Rasanya sungguh
menyenangkan saat kita melihat semua karakter yang kita baca bergulat bersama
waktu dan tumbuh dewasa. Mungkin inilah candu yang diberikan Dee—sebuah konsep
cerita serial yang membuat kita ketagihan sampai tak tahan harus menuntaskan
dengan sekali membaca. [salman/2009] |