Back Cover
“Buku ini istimewa karena bersandar pada riset yang ketat secara ilmiah dengan cakupan wilayah terbesar sepanjang sejarah ilmu sosial. Temuannya mencerahkan. Wajib dibaca oleh ilmuwan dan pengamat sosial serta pengambil kebijakan.” —Saiful Mujani, Direktur Eksekutif LSI
Para pemikir sosial abad ke-19, semisal Auguste Comte, Herbert Spencer, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, dan Sigmund Freud, memprediksi agama akan memudar dan mengalami disfungsi dalam masyarakat industri. Sepanjang abad ke-20, keyakinan agama lenyap dan digantikan kearifan konvensional dalam ilmu pengetahuan. Inilah inti teori sekularisasi yang sangat dominan di dunia modern.
Namun, beberapa dekade terakhir, tesis redupnya pesona agama ini kian mendapati kritik. Kenyataannya, agama saat ini tidak benar-benar mati dan tidak pula kehilangan sisi pentingnya. Hal ini tampak dari kian menguatnya religiusitas di Amerika Serikat, munculnya spiritualitas New Age di Eropa Barat, maraknya gerakan fundamentalis dan partai keagamaan di dunia Muslim, serta menyeruaknya konflik etno-religius di kancah internasional.
Apakah sekularisasi sudah tamat? Jawabnya, tidak! Namun demikian, teori lama tentang sekularisasi mesti diuji kembali dan diperbarui. Dan, buku ini menyajikan kontroversi teori baru ihwal sekularisasi. Didukung fakta-fakta hasil survei World Values Survey terhadap hampir 80 masyarakat di seluruh dunia, karya ini penting bagi siapa pun yang tertarik pada isu-isu agama, sosial, opini publik, perilaku politik, psikologi sosial, hubungan internasional, dan perubahan budaya.
“Norris dan Inglehart menyodori kita standar emas ilmu sosial.” —Steve Bruce, University of Aberdeen
“Pendekatan interdisipliner dalam studi ini mampu… menghasilkan laporan yang berbeda dan merangsang pikiran mengenai hubungan kontemporer antara agama dan perkembangan ekonomi.” —Rachel M. McCleary, Harvard University
“Buku yang sangat bagus… merupakan capaian besar di bidang riset empirik, sekaligus memberi kontribusi penting bagi dunia teori.” —David Voas, University of Manchester
“Argumen-argumen dalam buku ini kontroversial, dan karena itu pasti mendorong para ilmuwan politik dan sosiolog… untuk menyangkalnya.” —Clyde Wilcox, Georgetown University
Review Pembaca ( beri review untuk buku ini )
Resensi Buku Ini
Meretas Wacana Sekularisasi Seputar Indonesia | Minggu, 29 November 2009 | Oleh Mohalli Ahmad *
Sejauh ini, perdebatan mutakhir sekularisasi berhenti pada pudarnya anggapan beberapa pemikir sosial tentang eksistensi agama di dunia modern. Auguste Comte, Emile Durkheim, Max Weber, Karl Marx, dan Sigmund Freud merupakan sederetan tokoh yang memprediksi agama akan segera ditinggalkan pemeluknya, khususnya dalam masyarakat industri. Namun, kenyataan agama di abad ke-20 hingga sekarang tetap eksis dan masih dibutuhkan perannya.
Bahkan ada kecenderungan untuk semakin memperkuat vitalitas agama dengan menjadikannya sebagai landasan ideologis kelompok atau gerakan sosial-politik tertentu. Pertanyaannya, benarkah anggapan yang didasarkan atas kerangka teoritis itu sepenuhnya salah? Bukankah modernisasi selalu di... Selengkapnya |
|