Tokugawa Yoshinobu, yang dilahirkan di Edo pada tahun 1837, adalah putra Tokugawa Nariaki, pemimpin sekolah anti-bangsa asing. Serangan bangsa asing yang semakin intensif setelah kedatangan Perry menyebabkan para daimyo mengimpor senjata dan infrastrukturnya secara mandiri dari Barat.
Pada era 1860-an, kekuatan Tokugawa sudah sedemikian lemah karena ditambah adanya perselisihan internal di ibukota. Hingga pada tahun 1867, pasukan dari domain-domain feodal telah berhamburan memasuki Kyoto dengan dalih untuk menjaga kaisar. Kelompok ini dipimpin oleh para samurai-birokrat muda, yang telah mempelajari teknologi Barat dan berharap dapat memodernisasikan negeri tersebut. Pada saat itu muncul dua pilihan: membentuk penyatuan pemerintahan keshogunan dan kekaisaran, atau pemerintahan kekaisaran secara langsung.
Pada saat inilah muncul Tokugawa Yoshinobu. Seorang laki-laki muda, bersemangat, dan progresif, yang didesak oleh dewan keshogunan untuk merebut kembali tanah tumpah darahnya, dan kemudian ia diminta untuk menjabat sebagai shogun berikutnya.
Ini bukanlah prospek yang menarik. Pada era 1860-an, susunan pemerintahan otoriter yang dibangun oleh Ieyasu telah hancur berkeping-keping. Di seluruh Jepang, masyarakat merasa gelisah dan menginginkan suatu perubahan. Berbagai pemimpin klan, khususnya yang berasal dari Satsuma dan Choshu, bermaksud untuk menghancurkan keshogunan dan mengembalikan tampuk pemerintahan ke tangan kaisar. Yoshinobu sendiri menghadapi dilema. Di satu sisi ia berharap dapat mempertahankan dinasti keluarga, di sisi lain ia seseorang yang mendukung modernisasi. Secara pribadi, ia tidak menolak keinginan untuk merestorasi kekaisaran.
Sebagai aktor handal dan tokoh sejarah yang dikenang sepanjang masa, Yoshinobu tidak hanya dikenal sebagai Shogun terakhir dari klan Tokugawa, ia juga terkenal sebagai Shogun yang pandai menyembunyikan suasana hatinya. Ia bisa menangis diam-diam ketika orang yang setia meninggalkan dirinya.
Sejarah mengukir nama Yoshinobu sebagai seorang reformis pada zamannya. Tidak hanya sebagai reformis, tetapi juga seorang pahlawan. Meskipun ia telah kehilangan segalanya; harga diri maupun kekuasaan, yang ia inginkan hanyalah keadilan.
The Last Shogun (Shogun Terakhir) merupakan sebuah karya dari Ryotaro Shiba, peraih anugerah Naoki ditahun 1959 dan anugerah Order of Culture tahun 1993. Buku ini merupakan sebuah penuturan cerita penulis based on penelitian dan pencarian data historic nyata tentang Tokugawa Yoshinobu. Tetapi dituturkan dengan gaya penulisan novel. Sebuah novel fiksi-sejarah yang sangat sarat akan kisah-kisah motivasional dan kepemimpinan. Satu hal yang sangat menarik yang saya ambil dari buku ini, Jepang saat ini dikenal dengan negara super adidaya, dengan rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap bangsa & negaranya membumi di jiwa setiap masyarakatnya. Hal tersebut jelas tidak dapat tercipta dalam sehari semalam, dan buku ini menceritakan salahsatu proses dari pembetukan rasa & semangat tersebut. Sangat berbeda dengan bangsa kita yang sangat mudah tergiur dengan pernak-pernik dari bangsa luar, yang notabene "katanya" sudah terlepas dari penjajahan bangsa asing sekian puluh tahun. Ketika "Keinginan, Prinsip, Kerja-Keras, Keteguhan, Semangat, dan Kejujuran" terakumulasi, saya yakin bangsa kita bisa sejajar dengan Jepang, seperti yang dilakukan oleh para reformis Jepang, Tokuga Yoshinobu salahsatunya. "Kenali dirimu dan lawanmu, dan kau tak terkalahkan dalam ratusan pertempuran," kalimat ini dapat diimplementasikan secara universal, tidak hanya dalam medan pertempuran antar tentara atau bangsa, tetapi juga dalam hal lain, seperti persaingan pendidikan, perdagangan, politik, ekonomi, dsb.
Shiba, adalah salah satu penulis yang paling dihormati di Jepang, lahir di Osaka pada tahun 1923. Ia lulusan Universitas Osaka jurusan studi luar negeri, tempatnya mempelajari bangsa Mongolia, dan bergabung dalam Tentara Imperialis Jepang selama Perang Dunia II. Pada masa akhir peperangan, keterkejutannya atas arah Jepang menjadi begitu terfokus, dengan adanya perubahan pada perintah komandannya yang tidak memedulikan pada nyawa penduduk sipil Jepang. Setelah perang, ia mulai melakukan eksplorasi panjang akan orang-orang dan kejadian-kejadian dalam sejarah Jepang, mencoba untuk memahami bagaimana rangkaian sebuah bangsa itu tertata. Bekerja sebagai seorang reporter surat kabar, ia mulai menulis novel-novel sejarah, dan pada tahun 1959, ia menerima Anugerah Naoki untuk bukunya yang berjudul Fukuro no shiro (Kastil Burung Hantu).
Banyak karyanya, yang seringkali memberikan interpretasi baru akan masa-masa yang penuh naik dan turun seperti Restorasi Meiji, telah meraih sukses di kalangan pembaca Jepang. Ia menjadi anggota Akademi Kesenian Jepang pada tahun 1981, diakui sebagai orang yang berjasa dalam bidang kebudayaan pada tahun 1991, dan menerima anugerah Order of Culture pada tahun 1993. Shiba meninggal dunia pada bulan Februari 1996. Ia tinggal bersama isterinya, Midori.
Saya memberikan bintang **** untuk novel fiksi-sejarah ini. Bagi pencinta budaya & sejarah Jepang, buku ini kudu kalian baca.
salam;
Alwi Hasni
Bandung, 15 Januari, 2010. Penikmat Kopi & 234
|