Buku:7.163  eBook:3  Member:6.560  add user Join Member
Sudah menjadi member?
Konfirmasi Pembayaran
YM Dinamika     YM Dinamika
The Last Shogun: Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu

Penulis: Ryotaro Shiba
Review: nilai (2 Pembaca) Terbit : Januari 2010
Penerbit: Penerbit Kantera ISBN: 978-979-19xxx
Ukuran: 13.5 x 20,5 Cover: SC
Halaman: 352 / Berat Buku: 400 gram
Stock : Tersedia Total: 1 Resensi
 
 
The Last Shogun: Kisah Hidup Tokugawa Yoshinobu
Buku ini difavoritkan oleh 7 member - lihat

          Berbagi di Facebook

Back Cover

KENALI MUSUHMU DAN DIRIMU SENDIRI, DAN KAU TAK TERKALAHKAN DALAM RATUSAN PERTEMPURAN

Era 1860-an. Kekuatan keshogunan Tokugawa sudah sedemikian lemah karena adanya perselisihan internal di ibukota. Hingga pada tahun 1867, pasukan dari domain-domain feodal berhamburan memasuki Kyoto dengan dalih untuk menjaga Kaisar. Kelompok ini dipimpin para samurai-birokrat muda, yang telah mempelajari teknologi Barat dan berharap dapat memodernisasikan negeri tersebut. Hanya ada dua pilihan bagi keshogunan: menyatukan pemerintahan keshogunan dan kekaisaran atau membentuk pemerintahan kekaisaran secara langsung.

Pada saat inilah muncul Tokugawa Yoshinobu. Muda, bersemangat, dan progresif. Ia didesak oleh dewan keshogunan untuk merebut kembali tanah tumpah darahnya, dan kemudian diminta untuk menjabat sebagai shogun berikutnya. 

Buku ini menceritakan secara mendetail kehidupan Tokugawa Yoshinobu, dari mulai dilahirkan di keluarga Mito, dibesarkan sebagai Hitotsubashi, menjadi pengawal keshogunan, sampai pada akhirnya menjadi seorang shogun. Sebuah penjelajahan historikal yang mengagumkan tentang tokoh sejarah yang dikenal sepanjang masa, bukan hanya karena dia adalah shogun terakhir dari klan Tokugawa, tetapi juga karena pribadinya yang unik sebelum dan setelah menjadi shogun.



"Shiba menulis layaknya seorang novelis, menceritakan tentang figur ''orang terakhir'' yang berhasil memengaruhi negara beserta budayanya." 
-Booklist


Review Pembaca ( beri review untuk buku ini )

4 dari 4 pembaca terbantu dengan review ini
15-01-2010 - Kisah nyata yang mirip fiksi -
oleh : raychana (total: 8 review)

Ryotaro Shiba menyampaikan kehidupan shogun terakhir dengan begitu bagus.

Keiki, nama aslinya, merupakan karakter yang menarik - keras kepala, bijaksana, dan fasih. Dari lahir ke Klan Mito sampai menjadi shogun, ia dibantu atau terhambat oleh berbagai hal. Ayahnya, Nariaki, sejak awal percaya kalau Keiki muda kelak akan menjadi shogun.

Keiki untuk bekerja dengan rajin agar dapat mencapai tujuan itu. Banyak yang meninggal dalam membantu dirinya, dan banyak yang meninggal dalam menghambat dirinya. Begitu sampai di kursi kekuasaan tertinggi pada masa pemerintahan Tokugawa, Yoshinobo menunjukkan kearifannya yang besar dengan menyerahkan kekuasaan pemerintahan Jepang kembali ke Kaisar.

Ryotaro Shiba menceritakannya dengan sangat baik hingga saya begitu terlibat dalam kehidupan Keiki. Sejarah yang bernada seperti fiksi, ini adalah buku yang sempurna.

Apakah Anda terbantu dengan review ini? Silakan Login Untuk Memberi Respon

2 dari 2 pembaca terbantu dengan review ini
16-01-2010 - Dilema Sang Reformis -
oleh : alwihasni (total: 2 review)

Tokugawa Yoshinobu, yang dilahirkan di Edo pada tahun 1837, adalah putra Tokugawa Nariaki, pemimpin sekolah anti-bangsa asing. Serangan bangsa asing yang semakin intensif setelah kedatangan Perry menyebabkan para daimyo mengimpor senjata dan infrastrukturnya secara mandiri dari Barat.

Pada era 1860-an, kekuatan Tokugawa sudah sedemikian lemah karena ditambah adanya perselisihan internal di ibukota. Hingga pada tahun 1867, pasukan dari domain-domain feodal telah berhamburan memasuki Kyoto dengan dalih untuk menjaga kaisar. Kelompok ini dipimpin oleh para samurai-birokrat muda, yang telah mempelajari teknologi Barat dan berharap dapat memodernisasikan negeri tersebut. Pada saat itu muncul dua pilihan: membentuk penyatuan pemerintahan keshogunan dan kekaisaran, atau pemerintahan kekaisaran secara langsung.

Pada saat inilah muncul Tokugawa Yoshinobu. Seorang laki-laki muda, bersemangat, dan progresif, yang didesak oleh dewan keshogunan untuk merebut kembali tanah tumpah darahnya, dan kemudian ia diminta untuk menjabat sebagai shogun berikutnya.

Ini bukanlah prospek yang menarik. Pada era 1860-an, susunan pemerintahan otoriter yang dibangun oleh Ieyasu telah hancur berkeping-keping. Di seluruh Jepang, masyarakat merasa gelisah dan menginginkan suatu perubahan. Berbagai pemimpin klan, khususnya yang berasal dari Satsuma dan Choshu, bermaksud untuk menghancurkan keshogunan dan mengembalikan tampuk pemerintahan ke tangan kaisar. Yoshinobu sendiri menghadapi dilema. Di satu sisi ia berharap dapat mempertahankan dinasti keluarga, di sisi lain ia seseorang yang mendukung modernisasi. Secara pribadi, ia tidak menolak keinginan untuk merestorasi kekaisaran.

Sebagai aktor handal dan tokoh sejarah yang dikenang sepanjang masa, Yoshinobu tidak hanya dikenal sebagai Shogun terakhir dari klan Tokugawa, ia juga terkenal sebagai Shogun yang pandai menyembunyikan suasana hatinya. Ia bisa menangis diam-diam ketika orang yang setia meninggalkan dirinya. 

Sejarah mengukir nama Yoshinobu sebagai seorang reformis pada zamannya. Tidak hanya sebagai reformis, tetapi juga seorang pahlawan. Meskipun ia telah kehilangan segalanya; harga diri maupun kekuasaan, yang ia inginkan hanyalah keadilan.

The Last Shogun (Shogun Terakhir) merupakan sebuah karya dari Ryotaro Shiba, peraih anugerah Naoki ditahun 1959 dan anugerah Order of Culture tahun 1993. Buku ini merupakan sebuah penuturan cerita penulis based on penelitian dan pencarian data historic nyata tentang Tokugawa Yoshinobu. Tetapi dituturkan dengan gaya penulisan novel. Sebuah novel fiksi-sejarah yang sangat sarat akan kisah-kisah motivasional dan kepemimpinan. Satu hal yang sangat menarik yang saya ambil dari buku ini, Jepang saat ini dikenal dengan negara super adidaya, dengan rasa nasionalisme dan kebanggaan terhadap bangsa & negaranya membumi di jiwa setiap masyarakatnya. Hal tersebut jelas tidak dapat tercipta dalam sehari semalam, dan buku ini menceritakan salahsatu proses dari pembetukan rasa & semangat tersebut. Sangat berbeda dengan bangsa kita yang sangat mudah tergiur dengan pernak-pernik dari bangsa luar, yang notabene "katanya" sudah terlepas dari penjajahan bangsa asing sekian puluh tahun. Ketika "Keinginan, Prinsip, Kerja-Keras, Keteguhan, Semangat, dan Kejujuran" terakumulasi, saya yakin bangsa kita bisa sejajar dengan Jepang, seperti yang dilakukan oleh para reformis Jepang, Tokuga Yoshinobu salahsatunya. "Kenali dirimu dan lawanmu, dan kau tak terkalahkan dalam ratusan pertempuran," kalimat ini dapat diimplementasikan secara universal, tidak hanya dalam medan pertempuran antar tentara atau bangsa, tetapi juga dalam hal lain, seperti persaingan pendidikan, perdagangan, politik, ekonomi, dsb.

Shiba, adalah salah satu penulis yang paling dihormati di Jepang, lahir di Osaka pada tahun 1923. Ia lulusan Universitas Osaka jurusan studi luar negeri, tempatnya mempelajari bangsa Mongolia, dan bergabung dalam Tentara Imperialis Jepang selama Perang Dunia II. Pada masa akhir peperangan, keterkejutannya atas arah Jepang menjadi begitu terfokus, dengan adanya perubahan pada perintah komandannya yang tidak memedulikan pada nyawa penduduk sipil Jepang. Setelah perang, ia mulai melakukan eksplorasi panjang akan orang-orang dan kejadian-kejadian dalam sejarah Jepang, mencoba untuk memahami bagaimana rangkaian sebuah bangsa itu tertata. Bekerja sebagai seorang reporter surat kabar, ia mulai menulis novel-novel sejarah, dan pada tahun 1959, ia menerima Anugerah Naoki untuk bukunya yang berjudul Fukuro no shiro (Kastil Burung Hantu).

Banyak karyanya, yang seringkali memberikan interpretasi baru akan masa-masa yang penuh naik dan turun seperti Restorasi Meiji, telah meraih sukses di kalangan pembaca Jepang. Ia menjadi anggota Akademi Kesenian Jepang pada tahun 1981, diakui sebagai orang yang berjasa dalam bidang kebudayaan pada tahun 1991, dan menerima anugerah Order of Culture pada tahun 1993. Shiba meninggal dunia pada bulan Februari 1996. Ia tinggal bersama isterinya, Midori.

Saya memberikan bintang **** untuk novel fiksi-sejarah ini. Bagi pencinta budaya & sejarah Jepang, buku ini kudu kalian baca.

salam;

Alwi Hasni

Bandung, 15 Januari, 2010.
Penikmat Kopi & 234

Apakah Anda terbantu dengan review ini? Silakan Login Untuk Memberi Respon



Resensi Buku Ini

Sejarah Modernisasi Jepang
N Mursidi, Koran Jakarta, Senin, 31 Mei 2010

Togukawa Yoshinobu–gelar yang disematkan kepada Hitotsubashi Keiki yang dicatat sejarah sebagai shogun kelima belas–mungkin dapat dikatakan tak beruntung sewaktu diangkat menjadi shogun.

Yoshinobu yang memiliki banyak kelebihan dan dianggap sebagai reinkarnasi Ieyasu sedari awal direncanakan menjadi ahli waris Iesada (shogun ketiga belas). Tetapi, sejarah berkata lain. Iesada meninggal tiba-tiba.

Sementara itu, Hitotsubashi Keiki belum diangkat sebagai pewaris takhta. Padahal, Iesada tidak memiliki keturunan. Iemochi akhirnya yang diangkat menjadi shogun keempat belas–waktu itu berusia dua belas tahun.

Iemochi berkuasa delapan tahun (1858-186... Selengkapnya


Buku Sejenis

1.
2.
3.
4.
5.
Penulis: Roso Daras
6.
Penulis: Peter Kasenda
7.
Penulis: Ninie Susanti
8.
9.
10.
11.
12.
13.
Penulis: Roso Daras
14.
15.
Penulis: Yukiko Ezaki
16.
Penulis: Ridwan Jasin
Keranjang Belanja
MASIH KOSONG

Harga Normal Rp. 49.900
Harga Rp. 39.920
(hemat Rp. 9.980)

VERSI EBOOK Mobipocket
belum tersedia









Lupa password?

paypal logo   Bank BCA Mandiri Logo