Back Cover
Klop merupakan refleksi keprihatinan Putu Wijaya terhadap kondisi sosial negeri ini. Lewat cerpen-cerpennya yang segar dan menggelitik, kita akan menjumpai beragam kisah dan karakter, yang begitu dekat dalam keseharian kita, tetapi kerap luput dari perhatian. Bahkan, bisa jadi kisah kitalah yang tengah diceritakan oleh Putu Wijaya.
“Jadi kamu membatalkan kecemburuanmu?”
“Bukan!”
“Lalu?”
“Aku malah tambah iri. Sekarang iri bahkan sudah jadi dengki kepada manusia. Kenapa kami setan mesti selalu dibedakan dengan manusia? Mengapa kalau manusia mau menjadi setan kok gampang amat. Asal mau, kapan dan di mana saja, jreng-jreng-jreng jadi. Kalau tidak bisa, banyak gurunya. Bahkan, otodidak saja sudah bisa. Cukup dengan niat, dengan melakukan secuil kejahatan, manusia sudah otomatis menjadi setan. Paling sedikit disebut ‘setan’. Tetapi sebaliknya, mengapa kami, para setan, untuk bisa jadi manusia kok alot men. Edan!”
Review Pembaca ( beri review untuk buku ini )
Resensi Buku Ini
Surat Kepada Setan
Noval Maliki, novalmaliki.blogspot.com
Bagi penikmat sastra, baik sebagai pelaku, pemerhati, maupun sekedar sambil lalu, nama Putu Wijaya tentunya sudah akrab ditelinga. Maklum, pria kelahiran Tabanan Bali ini telah menulis tidak kurang 30 novel, 40 naskah drama, sekitar seribu cerpen, ratusan esai, artikel lepas dan kritik drama.
Selain sebagai sastrawan, jejaknya sebagai dramawan telah terukir sejak 1971 sebagai pemimpin teater Mandiri dan telah mementaskan puluhan lakon baik di dalam maupun luar negeri.
Tulisan-tulisannya yang tersebar dalam berbagai karya, menunjukkan dengan gamblang kalibernya sebagai seorang penulis-sastrawan, pun kepedulian sosok, yang selalu bertopi putih, ini atas segala fenomena dan ... Selengkapnya |
|