 |
|
 |
 |
| edisi 03-07-2009 |
| Fragmen Sejarah Majapahit dalam Sebuah Novel |
Ruang Baca Koran Tempo | Minggu, 28 Juni 2009 | Oleh Yanto Musthofa
Pernahkan nama Tenggulun (Trenggulun) dibincangkan orang sebegitu
heboh, bahkan di tingkat intenasional, sebelum tragedi bom Bali 2002?
Tidak, tentu saja. Tenggulun sampai kini pun masih tetap sebuah desa
yang cukup terpencil dari jalur ekonomi utama Kabupaten Lamongan, Jawa
Timur. Desa itu kini bagian dari Kecamatan Selokuro, pemekaran dari
Kecamatan Paciran.
Di suatu masa menjelang punahnya kejayaan Mahapahit pada abad ke-16,
terbetik kabar sekelompok pesilat muda meluruk wilayah Pringgoboyo.
Dengan garang, mereka membantai habis rombongan pendatang dari Eropa
saat menyusuri anak sungai Bengawan Solo dengan perahu Portugis. Para
pesilat itu adalah abdi wilayah perdikan Trenggulun, yang kala itu
dikenal sebagai salah satu kantong perlawanan garis keras terhadap
sisa-sisa kekuasaan Majapahit.
Kisah itu memang tak ada dalam buku-buku pelajaran sejarah. Kisah itu hanyalah sebuah fragmen dalam novel berjudul Pendekar Sendang Drajat, Pesisir Utara Majapahit di Abad ke-16 (Pustaka Alvabet, Juni 2009) karya Viddy AD Daery.
Pendekar
bernama asli Raden Ahmad itu adalah cucu Sunan Drajat dan Sunan Sendang
Duwur. Dia anak seorang kyai pengasuh pesantren terkenal, tapi namanya
lebih terkenal di rimba persilatan sebagai penumpas kejahatan, walau
dalam pengembaraannya dia juga rajin berdakwah.
Dalam kata pengantarnya, sang penulis, Viddy AD Daery, berterus terang
bahwa mula-mula novel ini ditulisnya dengan lebih banyak mengandalkan
cerita turun-temurun leluhur, ditambah sedikit data sejarah. Selebihnya
adalah imajinasi "bonek" alias bondo nekat (modal nekat).
Namun,
belakangan dia memeroleh data-data sejarah yang "ternyata tidak
bertabrakan" dengan hasil imajinasinya, dan akhirnya memperkaya
novelnya. Jadi, jelas bahwa Viddy memaklumkan novel silat ini sebagai
novel sejarah.
Anda boleh setuju, boleh tidak. Tapi, bagi penyuka novel silat, yang
telah cukup lama sepi dari karya baru, novel ini adalah pelepas dahaga
yang layak direguk. Drama konflik khas dunia persilatan yang diwarnai
dendam, persaingan dan adu ilmu kanuragan itu juga dibumbui kisah
asmara. Viddy berhasil mengalirkan semua itu dengan penuturan yang
membuai.
Pun, bagi Anda yang melirik novel ini karena genre
sejarahnya, maka Anda akan terenyak menatap sebuah potret geopolitik
Pamotan-Tuban (kini Lamongan) di pengujung masa Majapahit. Banyak desa
kecil di Lamongan, yang kini hanya bisa masuk koran atau televisi bila
luapan Bengawan Solo menyapunya, dulunya adalah pusat-pusat ekonomi
yang telah berinteraksi intensif dengan mancanegara.
Bahkan, anak
sungai Bengawan Solo pun disinggahi perahu-perahu saudagar dari jazirah
Arab, Persia, Gujarat (India), dan Portugis.
Lamongan di masa
itu menjadi benteng utara Majapahit dalam menghadapi musuh dari arah
Laut Jawa. Lamongan juga menjadi andalan Majapahit dalam hal produksi
senjata (keris), perhiasan dan aneka kerajinan lain yang berkualitas
tinggi. Tapi, di Lamongan pula berkembang gerakan politik untuk melawan
penindasan terhadap rakyat oleh penguasa lokal, yang kian menjadi-jadi
seiring kian lemahnya pemerintahan pusat Majapahit.
Novel Viddy
memang bukan buku pelajaran sejarah. Tapi, seperti kata Langit Kresna
Hariadi, penulis pentalogi Gajah Mada, "Novel ini menempatkan kita
lebih mudah belajar sejarah tanpa berniat belajar sejarah."
* Judul resensi di atas telah mengalami perubahan oleh redaksi Alvabet.
|
|
|
 |
 |
|
 |
|
|