Oktamadjaya Wiguna, Koran Tempo, Agustus 2009
Bangsa Maya menjalani peradabannya di Amerika Tengah dan Meksiko tanpa
mengenal logam dan roda. Tapi mereka bukanlah suku primitif dan garang.
Buktinya, tanpa teleskop dan mesin mesin hitung, mereka menyusun
kalender melalui pengamatan benda langit dengan mata telanjang yang
disusun secara sistematis.
Anehnya, meski peradaban Maya
diperkirakan berkembang pada abad keempat dan kelima sistem penanggalan
yang mereka ciptakan itu dimulai pada 13 Agustus 3113 Sebelum Masehi
dan berakhir pada 12 Desember 2012 Masehi.
Kalender inilah yang
menjadi ramalan bahwa kiamat datang pada 2012. Apalagi sistem
penanggalan di peradaban kuno Cina, India, dan Persia juga menunjukkan
sesuatu yang besar akan terjadi di seputar tanggal tersebut
Isu
kiamat 2012 ini sebenarnya cerita lama. Tapi, seiring dengan
mendekatnya tenggat, banyak yang mulai mengaitkan penanggalam Maya itu
dengan aktivitas yang akan mencapai puncaknya tiga tahun lagi. Badai
Katrina, Rita, dan Wilma pada 2005 ternyata terjadi berbarengan dengan
badai di matahari.
Perbincangan misteri 2012 ini juga menggejala
di dunia literatur. Toko buku online Amazon.com memiliki lebih dari 40
judul buku dengan tema tersebut. Dari jumlah itu, setidaknya ada tiga
buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia.
Mereka yang tak
terlalu suka membaca buku nonfiksi atau jeri dengan kerumitan teori dan
ramalan akhir zaman bisa memulainya dari Invisible City karya M.G. Harris. Novelis kelahiran Kota Meksiko ini menulis seri novel remaja The Joshua Files, yang mengangkat perburuan buku suku Maya "Codex Ix" yang dipercaya memuat rahasia peristiwa pada 12 Desember 2012.
Setelah
membaca novel yang diwarnai aksi baku hantam dan kejar-kejaran mobil
ini, pembaca bisa melangkah ke buku Lawrence E. Joseph, Kiamat 2012:
Investigasi Akhir Zaman. Setengah daging novel yang diterbitkan oleh
Gramedia Pustaka Utama ini didasari temuan arkeologi suku Maya dan
hipotesis terbaru soal badai mata¬hari yang berpotensi mengacaukan
kehidupan di bumi.
Joseph mengumpulkan bahan dengan mengunjungi
situs Maya serta berbincang dengan keturunan bangsa penghuni
Semenanjung Yucatan ini. Dia juga mengunjungi pusat pengamatan benda
langit di berbagai belahan dunia, ditambah perbincangan dengan
ilmuwannya. Inilah yang membuat bukunya lebih hidup.
Namun,
informasi yang dikumpulkan itu membuat penulis berdarah Libanon ini
tersandung pada data yang berisi angka, istilah, dan teori sains yang
pelik. Agar pembacanya tak mengerutkan kening, Joseph mengemas hal itu
dengan jenaka sampai-sampai hampir tak ada paragraf yang sepi dari
humor dan sentilan nakalnya.
Sementara Joseph menuliskan dengan
banyak memuat pandangan subyektifnya, buku Mystery of 2012 yang
dikerjakan oleh tim yang dipimpin Gregg Braden justru menyajikan
kumpulan tulisan yang lebih obyektif, serius, dan ilmiah.
Ada 24
tulisan yang dibuat oleh ilmuwan fisika, filsuf, seniman, sampai
pemimpin spiritual termasuk Lawrence E. Joseph. Mereka membedah
peradaban Maya sebagai sumber misteri, serta mengulas misteri 2012 dari
sudut pandang sains, politik, ekonomi, dan spiritual.
Meski
misteri seputar "kiamat dari matahari" rata-rata berbicara soal
kehancuran dunia, ketiga buku ini justru menawarkan semacam optimisme.
Bahwa orang-orang Maya sendiri tak pernah menyebut akhir kalender
sebagai ajalnya bumi sehingga terbuka peluang lain, yakni De¬sember
2012 sebagai awal baru atau titik balik peradaban.
Harris,
misalnya, menawarkan ide bahwa dalam "Codex Ix" barangkali ada jawaban
cara menghindarkan manusia dari bencana 2012. Sementara itu, Gregg
menawarkan satu bab yang mengajak agar memakai momen 2012 itu sebagai
pelecut introspeksi serta memprediksi secara positif kemungkinan yang
terjadi setelahnya.
Toh, sepanjang sejarah manusia, telah muncul
prediksi kapan hari akhir zaman terjadi namun sejauh ini semuanya
meleset. Bisa jadi ramalan 2012 salah satu yang keliru itu, namun
seperti diutarakan Joseph, kiamat tetap akan terjadi dalam waktu dekat
jika manusia menyalahgunakan teknologi menjadi senjata pemusnah massal
dan enggan menyelamatkan bumi dari kerusakan lingkungan. • OKTAMANDJAYA
WIGUNA |